pdmbontang.com, Samarinda – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur mengambil langkah strategis dalam mewujudkan transformasi digital persyarikatan. Hal ini ditandai dengan digelarnya Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Training of Trainers (ToT) Implementasi Aplikasi “SatuMu” yang dihadiri oleh seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Kalimantan Timur, Ahad 18 Januari 2026 di Hotel Grand Sawit Syariah Samarinda.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh delegasi Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, LabMu, dan seluruh unsur PWM Kaltim. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bontang, yang diwakili oleh Sekretaris PDM Sajaruddin dan Ketua Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Muhammad Zulfikar Akbar.
Ketua PWM Kaltim, KH. Siswanto, saat membuka acara menegaskan bahwa kegiatan ini adalah respons cepat wilayah atas instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia menekankan, Muhammadiyah harus berani berpindah dari sistem manual menuju digitalisasi.
“Selama ini kita cukup kesulitan menjawab pertanyaan berapa sesungguhnya jumlah anggota riil Muhammadiyah. Seringkali datanya hanya perkiraan. Kita ingin ke depan tidak ada lagi data yang ‘dikarang’, tapi berbasis data valid (by name by address),” tegas KH. Siswanto.
Related Post
Menurutnya, validitas data melalui aplikasi SatuMu ini krusial untuk berbagai kepentingan strategis, mulai dari distribusi kader, pemetaan potensi wilayah, hingga pengelolaan iuran anggota yang lebih transparan dan terukur.
Tekankan Hyper-Awareness dan Fast Execution
Hadir secara daring melalui sambungan Zoom, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, M.T., memberikan keynote speech yang membakar semangat peserta. Ia menyebutkan bahwa transformasi digital menuntut perubahan budaya kerja.
Prof. Muchlas mengutip konsep digital transformation yang menuntut tiga hal utama dari pimpinan persyarikatan: Hyper-awareness (kepedulian yang tinggi terhadap teknologi), keputusan berbasis data (data driven), dan fast execution (eksekusi cepat).
“Sistem digital itu rigid (kaku). Terlambat satu detik saja, sistem menolak. Maka budaya kita harus berubah menjadi cepat dan presisi,” ujar Prof. Muchlas.
Ia juga memaparkan peta jalan digitalisasi Muhammadiyah yang terbagi dalam dua ekosistem besar. Pertama, SatuMu yang bersifat eksklusif untuk pimpinan dan pengurus (mengelola organisasi, surat, dan data anggota). Kedua, aplikasi MASA yang inklusif untuk warga dan simpatisan (fitur jadwal salat, berita, hingga pembayaran iuran).
Tantangan “Membabat Alas”
Sementara itu, Ketua Panitia Amir Hady mengakui bahwa tahap awal implementasi ini akan terasa menantang. “Ibarat membabat alas, membuka hutan, awalnya pasti repot. Tapi jika sistem ini sudah berjalan, kemudahan luar biasa akan kita rasakan,” ujarnya.
Ia menargetkan pada tahun 2026, minimal 80 persen pimpinan di seluruh tingkatan di Kaltim sudah memiliki dan aktif menggunakan aplikasi SatuMu di gawai masing-masing.
Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Danamon Syariah. Perwakilan Manajemen Danamon Syariah, Triadi Iwan, menyampaikan komitmennya untuk memberikan solusi keuangan syariah yang komprehensif bagi ekosistem Muhammadiyah di Kalimantan Timur.
Bimtek ini diharapkan melahirkan trainer-trainer andal di tiap daerah yang siap menduplikasi pelatihan ini hingga ke tingkat Cabang dan Ranting, memastikan digitalisasi Muhammadiyah mengakar hingga ke basis terbawah. ***










