pdmbontang.com – Sudah lebih dari satu abad Muhammadiyah hadir di tengah masyarakat Indonesia sebagai gerakan Islam yang membawa semangat pencerahan. Dari sekian banyak amal usaha yang dilahirkan, sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi bukti nyata bahwa dakwah tidak hanya dilakukan lewat mimbar, tetapi juga lewat pendidikan. Di ruang kelas, di tengah interaksi antara guru dan siswa, nilai-nilai Islam berkemajuan hidup dan tumbuh setiap hari.
Namun, dalam perjalanan memajukan lembaga pendidikan ini, ada satu hal penting yang sering kali luput dari perhatian: pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Padahal, sehebat apa pun visi dan fasilitas yang dimiliki sekolah, semuanya tidak akan berjalan tanpa SDM yang berkualitas, berkomitmen, dan memiliki ruh keikhlasan.
Manusia, Bukan Sekadar Penggerak Sistem
Banyak yang berpikir bahwa keberhasilan sekolah tergantung pada kurikulum, gedung megah, atau sistem administrasi yang canggih. Padahal, kunci utama keberhasilan itu terletak pada manusianya — para guru, tenaga kependidikan, dan pimpinan sekolah. Mereka bukan sekadar pelaksana sistem, tetapi penggerak ruh pendidikan Islam itu sendiri.
Related Post
Guru di sekolah Muhammadiyah tidak hanya dituntut menjadi pengajar yang cerdas, tetapi juga pendidik yang membimbing dengan hati, menanamkan nilai-nilai keislaman, dan menjadi teladan dalam perilaku. Guru yang seperti ini tidak muncul begitu saja; mereka harus dikelola, dibina, dan dikembangkan secara sistematis melalui manajemen SDM yang baik.
Manajemen SDM yang efektif mencakup proses rekrutmen yang selektif, pelatihan yang berkelanjutan, serta sistem penghargaan yang memotivasi. Sekolah perlu memastikan setiap individu memahami visi dakwah Muhammadiyah dan memiliki semangat untuk mewujudkannya dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Mengelola dengan Profesional, Berjiwa Dakwah
Sekolah Muhammadiyah perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern tanpa meninggalkan nilai spiritualnya. Artinya, tata kelola SDM harus berjalan secara profesional: ada perencanaan karier, evaluasi kinerja yang adil, dan komunikasi yang terbuka antara pimpinan dan guru. Namun di saat yang sama, semua proses itu harus berlandaskan nilai keikhlasan, musyawarah, dan ukhuwah Islamiyah.
Ketika SDM merasa dihargai dan diberdayakan, mereka akan bekerja bukan karena kewajiban semata, tetapi karena panggilan dakwah. Inilah yang membedakan sekolah Muhammadiyah dari lembaga pendidikan lainnya: profesionalisme yang berpadu dengan keikhlasan.
Selain itu, pembinaan mental dan spiritual juga tidak kalah penting. Rutinitas seperti pengajian guru, kajian tafsir, atau kegiatan keislaman internal sekolah dapat menjadi sarana penguatan ruh dakwah di kalangan pendidik. SDM yang kuat bukan hanya terampil dalam mengajar, tetapi juga mantap secara ideologis dan spiritual.
Kaderisasi: Menyiapkan Pemimpin Pendidikan Masa Depan
Salah satu tantangan besar bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah saat ini adalah regenerasi kepemimpinan. Banyak sekolah yang sukses di bawah satu pimpinan, tetapi kemudian kehilangan arah ketika terjadi pergantian. Di sinilah pentingnya kaderisasi SDM.
Sekolah Muhammadiyah harus menjadi lahan subur untuk menumbuhkan calon-calon pemimpin pendidikan yang memiliki integritas, visi, dan komitmen pada nilai-nilai Muhammadiyah. Program mentoring, pelatihan kepemimpinan, dan pelibatan guru muda dalam pengambilan keputusan bisa menjadi langkah awal. Dengan begitu, keberlanjutan dakwah dan mutu pendidikan dapat terjaga.
Sinergi antara SDM, Sistem, dan Nilai
Manajemen SDM tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berjalan selaras dengan sistem manajemen sekolah secara keseluruhan — mulai dari kurikulum, tata kelola keuangan, hingga pelayanan kepada siswa dan orang tua. Ketika semua unsur ini bersinergi dalam bingkai nilai-nilai Islam berkemajuan, maka akan lahir sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan sosial.
Sekolah Muhammadiyah sejatinya bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga wadah pembentukan peradaban. Dan peradaban tidak dibangun oleh sistem, melainkan oleh manusia yang berkarakter, berilmu, dan berjiwa dakwah. Maka, mengelola SDM berarti mengelola masa depan Muhammadiyah itu sendiri.
Penutup: Membangun dari Manusia, Menuju Sekolah Berkemajuan
Pada akhirnya, keberhasilan sekolah Muhammadiyah bukan hanya diukur dari banyaknya prestasi siswa atau modernnya fasilitas, melainkan dari kualitas manusia yang bekerja di dalamnya. Guru yang bersemangat, pimpinan yang visioner, dan tenaga administrasi yang amanah — semuanya menjadi satu kekuatan besar yang menentukan arah gerak sekolah.
Sekolah Muhammadiyah akan terus maju jika ia membangun dari manusianya terlebih dahulu. Karena sesungguhnya, di tangan SDM yang tangguh dan ikhlaslah terletak masa depan pendidikan Islam berkemajuan. ***
*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang












